Langsung ke konten utama

Pengalaman Belanja Buku Online



Sebagai tenaga pengajar, aku perlu buku-buku penunjang, karena tinggal di kota kecil dengan toko buku yang koleksinya terbatas, mau tidak mau beli online adalah salah satu cara untuk mendapatkan buku yang dibutuhkan. Pada awalnya sempat ragu, selain tidak punya pengalaman tentang belanja online juga takut ditipu. Berbekal sedikit nekat dan artikel pengalaman-pengalaman netizen di internet seputar belanja buku online maka kuberanikan untuk membeli buku di salah satu situs jual beli online yang cukup terkenal yaitu Tokopedia. Setelah menemukan buku yang dicari, aku segera melakukan proses pemesanan dan pembayaran melalui transfer bank. Saat itu aku menggunakan  pos Indonesia. Alasanku memilih kurir pengiriman ini karena biayanya yang cukup terjangkau dibandingkan jasa pengiriman yang lainnya. Tidak sampai seminggu buku yang kupesan tiba dengan selamat. Berbekal dari pengalaman belanja buku pertama kalinya ini, aku mencoba membeli lagi di situs yang sama dan Alhamdulillah sama dengan yang pertama tidak ada masalah. Alasanku memilih tokopedia karena selain reviewnya yang bagus dari kalangan pengguna internet yang pernah berbelanja di sana, juga kita bisa mengecek riwayat pesanan kita.
Beralih ke pengalaman belanja buku online di situs lain yaitu Belbuk. Sebenarnya aku agak was-was ketika ingin membeli buku di situs tersebut, karena situsnya sering error dan itu cukup membuat kesal karena harus mengulang kembali ke situs tersebut berkali-kali. Aku juga tidak terlalu mengerti kenapa, tapi karena buku yang aku butuhkan ada di sana ya aku memilih mencoba saja. Proses pendaftarannya dan pemesanannya kurang lebih sama dengan tokopedia, namun jasa pengiriman yang tersedia tidak bisa kita pilih, hanya ada pilihan TIKI. Berbeda dengan tokopedia yang menyediakan pilihan jasa pengiriman, sehingga kita bisa memilih yang murah atau mahal namun barang cepat sampai. Resiko tinggal di kota kecil, ya itu jasa pengirimannya jadi mahal, bahkan harga bukunya bisa sama dengan ongkos kirim, tapi itu tidak menyurutkan niatku untuk membeli buku lagi, apalagi bahan penunjang untuk mengajar. Sekitar 6 hari alhamdulliah bukuku sampai. Buku yang aku pesan berjudul Semiotika komunikasi karya Indiwan Wahyu Seto Wibowo, pengepakannya rapi dan cantik J.
Mungkin itu saja yang bisa kushare, tidak banyak toko yang kusarankan karena baru mencoba dua situs tersebut. Oh, ya pesanku, jangan takut untuk berbelanja buku online. Cek dengan teliti sebelum membeli, seperti review dari pembeli sebelumnya dan chat dengan penjual untuk mengecek ketersedian barang. Ciawwww….



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Karena kita tidak sama

Apa yang kita lakukan, pasti ada saja yang tidak suka dengan kita. Padahal menurut kita, kita melakukan hal yang baik. Itu karena isi kepala setiap orang berbeda beda, ada yang berpendapat A, ada yang B , dan seterusnya. Kritikan selalu datang, kadang membangun, kadang menjatuhkan. Ikuti yang kritik yang membangun, buang kritik yang hanya berusaha menjatuhkan kita. Keep calm down. Toh, Allah menciptakan dunia yang begitu luas dan pasti ada banyak orang untuk kita di luar sana. Yang mampu menerima kita apa adanya.

Persegi Panjang dan Lingkaran tak Sempurnaku

Suara sumbang itu terdengar Telinga hingga pekak Dan hati jadi ciut Senyum yang tersungging, tiba-tiba memudar Kau yang berdiri di sana Ada apa dengan dirimu? Apa isi pikiranmu? Kotak? lingkaran? Segitiga? Bagaimana jika aku persegi panjang atau lingkaran tak sempurna? Mau menggunting isi pikiranku karena tak sama? Kita beda Aku sadar itu Suatu kali kau melakukan yang tak sesuai dengan isi pikiranku Lalu haruskah aku juga menggunting isi pikiranmu? Kenapa aku harus sama? Apa kau benar dengan kotak, lingkaran dan segitigamu? Ya, setidaknya tak ada yang terluka bukan dengan persegi panjang dan lingkaran tak sempurnaku? Ah,tak apa Kau membuat tulisan ini tercipta Di tengah telinga yang pekak Hati yang menciut dan senyum yang memudar Hanya saja kita tak perlu sama

Selama Pandemi

Pandemi? jeda. Setelah 2018, 2019 dan awal tahun tadi memforsir badan. Sempat nangis juga awal tahun tadi karena malam-malam kaki sakit karena kecapean. Awal juni kita kembali ke rutinitas, karena tidak ada surat perpanjangan belajar di rumah bagi sekolah. Tidak berekspektasi macam-macam, mau diperpanjang maupun tidak belajar dirumahnya, seperti punya 2 mata sisi uang atau pisau ya? saya percaya pemerintah punya pertimbangan matang untuk mengatasi masalah ini.      Lalu apa kegiatan selama di rumah? Pembelajaran secara daring, saya lakukan dengan menggunakan google classroom bagi kelas XI. Kenapa tidak menggunakan WA? Sempat saya gunakan ketika USBN, namun saya kewalahan dan membingungkan dengan banyaknya chat siswa, memori handphone juga penuh. Google classroom berhasil untuk sebagian siswa, namun ada saja siswa yang mengeluhkan mengenai sulitnya jaringan, ketiadakan kuota internet, belum paham cara menyerahkan tugas di google classroom, namun enggan bertanya, h...