Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label puisi

Nyamuk

Kau membenci nyamuk Aku juga Aku benci suara dengingnya di telingaku Selimut yang ku tutupkan di seluruh kepalaku tak bisa menghalangi suara dengingnya yang memuakkan Ahh... tapi aku juga malas beranjak dari kasurku untuk sekadar mengambil obat nyamuk Karena itu bukan hanya 'sekadar' Dia yang menggangguku Dan sekarang dia minta 'sekadarku'

Bukan Penggemar Terbaik

Aku mengagumimu dalam diamku di ujung mataku karena sungguh aku tak berani tak berani untuk memandang matamu Biar aku jadi anggota club penggemarmu di antara ribuan, aku ada di sana mengagumimu yang berada di atas panggung Wajah cantik, body aduhai jangan suruh aku bersaing dengan mereka aku mundur teratur Maka biarkan aku tetap berada di kerumunan penggemarmu ada... namun tak terlihat tak berusaha menggapaimu karena tanganku tak sampai  

Hampir Selalu

Waktu Luka kita akan sembuh seiring waktu Maka serahkan saja padanya Biarkan dia yang melakukan pekerjaan selanjutnya Duduk manis saja   Dan kemudian Hanya menyisakan kenangan Dia akan dengan senang hati bercerita “Dulu… dulu sekali Kita pernah menangis akan sesuatu Menangis hingga dada terasa sesak Menangis hingga mata sembab” Ceritanya Kita ingat rasa sakitnya Kita ingat bagaimana perasaan sedih itu Namun dada tak terasa sesesak dulu Mata tak menangis Waktu Melakukan pekerjaannya dengan baik Selalu Hampir selalu    

Meski Dusta

Bagaimana Minggumu

Sayang...  Bagaimana minggumu? Mingguku adalah tentang sebuah angkutan umum tua Ditemani musik dangdut koplo yang diputar supir dengan keras memekakkan telinga Dan asap rokok kretek yang menusuk hidung Tubuh yang tersentak kesana kemari karena jalan yang berlubang Juga Obrolan ibu paruh baya dan temannya dengan suara nyaring menyaingi suara mesin taksi tua Si supir sedang bercerita tentang istri keduanya Tapi  aku tak peduli,  Aku melemparkan pandanganku keluar jendela Melihat ilalang yang tumbuh memutih di bekas lahan terbakar Aku hanya penasaran,  Bagaimana minggumu?

2019ku

Aku? Di 2019 Menatap ujung sepatuku yang berdebu Menatap helaian rambut yang rontok di tanganku sambil berdecak Menatap ujung rokku yang manyapu rumput di lapangan hijau Menatap jas hujanku yang robek di ketiaknya Mengunyah pentol dan meminum pop ice vanilla blue  Menggoyangkan kaki di bawah meja sambil mengetikkan sesuatu di laptop dan menguping gosip terbaru Kamu? Bagaimana 2019mu? Sini duduk  Jika aku tak sedang egois aku akan mendengarkanmu Jika tidak,  entah...

Tak Apa Jika di Dalam Berdarah-Darah

Ingin marah semarah-marahnya Ingin berteriak senyaring-nyaringnya Ingin menangis sekencang-kencangnya Tapi… Hanya ada gigi gemetuk menahan marah Hanya ada bibir yang terkunci rapat Hanya ada mata yang merah Hanya ada tangan yang mengepal di bawah meja Pada akhirnya senyum harus tetap mengembang Seolah-olah Dan seolah-olah Semua baik-baik saja Tak apa jika di dalam berdarah-darah dan Tak apa jika di dalam berdarah-darah Wajah harus tetap sumringah Hadiahkan padaku piala citra Untuk kategori akting terbaik tahun ini Pula, aku tak perlu membaca skenario Aku Adalah alami Pada akhirnya semuanya akan baik-baik saja Seharusnya Tak apa jika di dalam berdarah-darah #sajak kemarin sore

Bukan Milik Mereka Lagi

Tawa itu bukan milik mereka lagi Canda itu bukan milik mereka lagi Pun wajah manis Pun kemesraaan yang mereka umbar yang kadang membuatku yang meliatnya menjadi jengah Itu bukan milik mereka lagi Setelah pertengkaran hebat waktu itu Pertengkaran yang membuat semuanya berbalik Kini Hanya ada wajah masam Kini Hanya ada wajah kebencian Dulu mereka bilang itu cinta Kini semuanya menjadi amarah Amarah yang saling melukai Tidak bisakah mereka melupakan semuanya? Tidak bisakah mereka berbaikan? Jika tidak sebagai kekasih Jadilah teman Tak nyaman rasanya menjadi penonton Ketika salah satu dari mereka mulai menghancurkan orang yang dulu katanya pernah dicintainya Aku tak berhak geram Aku tak tahu dan paham sepenuhnya Sebegitu hebatkan luka yang digoreskan? Yang tadinya cinta kemudian bermusuhan Tidak bisakah saling melupakan dan memulai awal yang baru mungkin dengan yang lain Tidak dengan dendam dan amarah yang menghancurkan seperti ini? Sebagai penonton, drama yang mer...

Cinta Dalam Sembunyi

Cinta seperti apa yang kalian miliki? Cinta dalam sembunyi kah? Kenapa lebih banyak pertengkaran yang kalian miliki? Itukah yang dicari setelah ada yang tersakiti di antara sembunyi kalian? Kalian jauh lebih tau dan paham Kalian tidak untuk bersama Namun memaksa Kalian pernah mencoba Jauh, jauh sebelum semua Namun Ego berkuasa Lalu, untuk apa semua ini? #Dari seorang penonton yang tak paham dengan drama yang sedang kalian mainkan

Kamu Sinis

Malas untuk sinis Malas untuk sarkas Karena sinis itu tidak manis😄 Apa? Buat apa? Bicara saja didepanku Jangan dibelakangku Aku tak dengar Hei, jangan pula di sosial media Aku takkan paham Kamu sinis, dan kamu tidak manis😄

Entah Akan Seperti Apa

Entah akan seperti apa ujungnya Seperti berjalan tanpa arah dan tujuan Dingin Senyap Bingung Resah Lalu aku berpaling Di mana aku? Aku kehilangan kata-kata untuk sekedar bertanya apalagi menjelaskan Ketika kutemukan Kemudian aku takut Terlalu takut untuk berkata-kata Entah akan seperti apa ujungnya

Penikmat Senja

Aku tak akan pernah bisa memerangkap senja Bahkan menggenggamnya Karena aku tak bisa menahan cahayanya yang keluar dari sela jari-jariku Aku tak bisa memiliki senja untuÄ· diriku sendiri yang bisa kupandang kapanpun aku mau Maka sore itu aku memilih memandang senja dan menikmatinya Merasakan cahayanya menerpa kulitku Hingga ia hilang di ufuk barat Aku menyukainya Aku penikmat senja

Ma, Anakmu Kini Sudah Dewasa

Ma, anakmu kini sudah dewasa Apa waktu berjalan dengan cepat ma? Dewasa, satu kata yang dulu sempat sangat kuinginkan saat kecilku Orang dewasa tampak hebat Ma Tampak luar biasa dengan kebebasan mereka Tampak menyenangkan dengan barang-barang yang mereka miliki Ma, Dewasa tak sepenuhnya menyenangkan ternyata Dewasa artinya punya tanggung jawab Dewasa artinya setiap langkahku punya akibat ke depannya Dewasa artinya aku tak bisa melakukan apa pun seenaknya layaknya kecilku Ma, entah.... ini tak begitu menyenangkan Apa Mama juga merasakan hal yang seperti ini? Ada mudahku, namun juga ada sulitku Sulitku rasanya tak beranjak menjauh dengan cepat tak seperti PR sekolah Jika aku lupa atau salah Aku hanya akan dihukum atau mendapat nilai jelek Setelah itu semuanya baik-baik saja Namun dewasaku tak sesederhana itu rupanya Ma, aku ingin sekali bercerita sulitku Tapi dewasamu  juga punya sulitmu Ah, jahat jika aku bercerita Ma, anakmu kini sudah dewasa Ada mudahku ada...

Tidak Ada New York Hari Ini

Meriang. Meriang. Aku meriang. Kau yang panas di kening. Kau yang dingin dikenang. (Tidak ada new york hari ini) M Aan Mansyur

Aku adalah

Aku adalah penikmat sunyi Juga penabuh ramai Meski sunyi sepi Meski ramai bising Namun tak selalu

Karena Aku Tahu Ini Adalah Bercanda

Karena aku tahu ini adalah bercanda Situasi ini memang diciptakan agar semua bisa tertawa dan ceria Sebiasa mungkin tak membuat salah satu pihak terluka Meski mereka gagal Ada, ada rasa terluka itu meski sedikit Karena aku tahu ini adalah bercanda Maka Kuposisikan diriku untuk menanggapinya dengan bercanda pula Karena sederhana Aku tidak ingin terluka Menangapinya dengan serius Karena aku tahu ini bercanda Biar semua membaur dalam tawa Ciptakan saja ironi Aku akan ikut tertawa Karena aku tahu ini adalah bercanda