Langsung ke konten utama

Bumi Asap



Hai, Bumi, apa kabarmu?
Tampaknya kau sedang tidak baik-baik saja
Kau diselimuti kabut yang membuatmu tak cerah
Ya, tak seharusnya aku bertanya, karena semua alasan itu sudah diketahui semua orang, bahkan dapat dengan mudahnya ditemukan di media massa
Karena ulah manusia juga kan, Bumi?
Ya, manusia yang membuat kebakaran lahan ini, menyebabkan kabut melingkupimu
Manusia yang tinggal di sini, manusia yang merusaknya dan manusia juga yang terkena akibatnya
Tidak Bumi, hewan dan tumbuhan pun terkena akibatnya
Entah Bumi, mungkin beberapa orang tak berpikir sejauh itu sebelum merusakmu
Betapa egoisnya

Bumi, aku rindu biru langitmu di pagi hari
Aku rindu mencium aroma segar pagi tanpa aroma asap
Aku rindu pegunungan yang hijau tanpa bopeng karena sebagian lahan dibakar

Bumi, Yang bisa kulakukan hanyalah hal kecil
Memulai dari diriku sendiri untuk tidak membuang sampah sembarangan
Iya, ini tidak ada hubugannya dengan kebakaran lahan yang menyelimutimu
Tapi lewat tulisan ini aku berharap pada mereka yang menyakitimu atau juga aku
Untuk menyayangimu
Semua perbuatan membakar lahan itu benar-benar mengganggu
Merusak tatanan indah yang diciptakan Allah padamu, Bumi
Bumi, aku berharap ini segera berlalu
Langit cerahmu bukan aku saja yang rindukan
Tapi semua orang
Bumi, egoisnya beberapa orang itu semoga mereka segera paham
Kau tempat kami hidup

Jika kau rusak? Maka bagaimana dengan kami?…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Karena kita tidak sama

Apa yang kita lakukan, pasti ada saja yang tidak suka dengan kita. Padahal menurut kita, kita melakukan hal yang baik. Itu karena isi kepala setiap orang berbeda beda, ada yang berpendapat A, ada yang B , dan seterusnya. Kritikan selalu datang, kadang membangun, kadang menjatuhkan. Ikuti yang kritik yang membangun, buang kritik yang hanya berusaha menjatuhkan kita. Keep calm down. Toh, Allah menciptakan dunia yang begitu luas dan pasti ada banyak orang untuk kita di luar sana. Yang mampu menerima kita apa adanya.

Persegi Panjang dan Lingkaran tak Sempurnaku

Suara sumbang itu terdengar Telinga hingga pekak Dan hati jadi ciut Senyum yang tersungging, tiba-tiba memudar Kau yang berdiri di sana Ada apa dengan dirimu? Apa isi pikiranmu? Kotak? lingkaran? Segitiga? Bagaimana jika aku persegi panjang atau lingkaran tak sempurna? Mau menggunting isi pikiranku karena tak sama? Kita beda Aku sadar itu Suatu kali kau melakukan yang tak sesuai dengan isi pikiranku Lalu haruskah aku juga menggunting isi pikiranmu? Kenapa aku harus sama? Apa kau benar dengan kotak, lingkaran dan segitigamu? Ya, setidaknya tak ada yang terluka bukan dengan persegi panjang dan lingkaran tak sempurnaku? Ah,tak apa Kau membuat tulisan ini tercipta Di tengah telinga yang pekak Hati yang menciut dan senyum yang memudar Hanya saja kita tak perlu sama

Selama Pandemi

Pandemi? jeda. Setelah 2018, 2019 dan awal tahun tadi memforsir badan. Sempat nangis juga awal tahun tadi karena malam-malam kaki sakit karena kecapean. Awal juni kita kembali ke rutinitas, karena tidak ada surat perpanjangan belajar di rumah bagi sekolah. Tidak berekspektasi macam-macam, mau diperpanjang maupun tidak belajar dirumahnya, seperti punya 2 mata sisi uang atau pisau ya? saya percaya pemerintah punya pertimbangan matang untuk mengatasi masalah ini.      Lalu apa kegiatan selama di rumah? Pembelajaran secara daring, saya lakukan dengan menggunakan google classroom bagi kelas XI. Kenapa tidak menggunakan WA? Sempat saya gunakan ketika USBN, namun saya kewalahan dan membingungkan dengan banyaknya chat siswa, memori handphone juga penuh. Google classroom berhasil untuk sebagian siswa, namun ada saja siswa yang mengeluhkan mengenai sulitnya jaringan, ketiadakan kuota internet, belum paham cara menyerahkan tugas di google classroom, namun enggan bertanya, h...