Sudah paling benar untuk tidak berharap pada manusia, kemungkinan dikecewakannya besar. Jadi saya putuskan untuk sekedarnya saja. Pengharapan saya yang berlebih tadi membuat saya merasa diacuhkan dan tidak dihargai. Ah, pagi yang melelahkan dengan harapan yang sia-sia ini, setidaknya… saya belajar, sebenarnya sudah sering belajar tentang ini, hanya saja saya cukup bebal, menjunjung effort yang akan berbalas.
Kadang terpikir, saya yang telalu naif, atau orang tesebut yang tidak peka? Tidak peka untuk melihat yang saya lakukan ,tidak peduli effort yang saya lakukan. Saya merasa kecil. Saya mencoba untuk tidak peduli, namun sisi naif saya cendrung songong. Sekian curhatan hari ini, dari orang yang suka ngedumel, tapi ya dikerjakan juga, tapi kecewa, tapi ya sudahlah, tapi yaaa…. naif.
Akhir-akhir ini ada yang menghubungiku via telepon dan SMS. Pertama kali mengirim sms dan menelpon cukup baik dengan menyebutkan nama, namun beberapa waktu kemudian mulai mengatakan hal-hal yang jorok dan tidak sopan, bahkan awalnya dia mengatakan namanya A, menjadi B saat kutanya lagi untuk memastikan. Awalnya kuabaikan dengan tidak mengirim sms balik dan menutup teleponnya, tapi ternyata itu tidak menghentikan orang tersebut, malah kembali mengirim pesan tersebut dan menelpon berkali-kali saat tengah malam. Terus terang aku merasa terganggu, apa lagi orang tersebut tidak menyebutkan dengan jelas siapa dia dan tinggal di mana. Bukankah seharusnya jika memang ingin berteman harus memperkenalkan diri dengan baik dan sejelas-jelasnya untuk menghindari kesalahpahaman? Tapi tidak begitu dengan orang tersebut, aku juga bukan tipe orang yang menutup diri dari telepon orang lain yang ingin berteman atau sekedar bertanya, selama dia tujuannya baik dan jelas. Merasa tak nyaman dan...
Komentar
Posting Komentar