Langsung ke konten utama

Ajarkan Aku Menjadi Burung

Seorang pria paruh baya menyodorkan selembar kertas padaku
Di sana tertulis 'Ajarkan aku menjadi burung'.
Aku mengernyitkan dahi ku, menggaruk kepalaku yang tak gatal, menatap bingung
ke arah pria itu dan separuh takut
Aku ingat dengan jelas
Ketika pagi tadi mandi dan menggosok punggungku
Aku tak menemukan sepasang sayap di sana
Ku ingat dengan jelas juga
Aku tak pernah memotong sayap itu hingga berdarah
Agar aku sama seperti orang lain
Tak juga pernah menjadi bahan percobaan di sebuah lab layaknya di film-film
Aku tak pernah melihat maupun menemukan sayap itu di punggungku
Lalu, macam mana aku belajar terbang dan mengajarkannya pada orang lain?
Tapi aku pernah berkhayal memilikinya
Terbang di ketinggian
Duduk di antara ranting pohon tertinggi di sebuah bukit
Sembari menikmati sunyi

Aku sering mencicit, mengoceh
Mungkin itu bisa kuajarkan
Burung untapun juga seekor burung
Punya sayap namun tak bisa terbang
Aku bisa ajarkan lari layaknya burung unta
Ah...apa pula yang kupikirkan
Aku menyerahkan kertas itu pelan dengan perasaan takut dan bingung
Orang macam apa yang bertanya cara menjadi burung
Sedangkan kita ini manusia

Belakangan aku tahu
Pria itu dibilang tak waras

Pada sebuah kalimat 'ajarkan aku menjadi burung'
Akupun mulai  mempertanyakan kewarasanku

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Karena kita tidak sama

Apa yang kita lakukan, pasti ada saja yang tidak suka dengan kita. Padahal menurut kita, kita melakukan hal yang baik. Itu karena isi kepala setiap orang berbeda beda, ada yang berpendapat A, ada yang B , dan seterusnya. Kritikan selalu datang, kadang membangun, kadang menjatuhkan. Ikuti yang kritik yang membangun, buang kritik yang hanya berusaha menjatuhkan kita. Keep calm down. Toh, Allah menciptakan dunia yang begitu luas dan pasti ada banyak orang untuk kita di luar sana. Yang mampu menerima kita apa adanya.

Persegi Panjang dan Lingkaran tak Sempurnaku

Suara sumbang itu terdengar Telinga hingga pekak Dan hati jadi ciut Senyum yang tersungging, tiba-tiba memudar Kau yang berdiri di sana Ada apa dengan dirimu? Apa isi pikiranmu? Kotak? lingkaran? Segitiga? Bagaimana jika aku persegi panjang atau lingkaran tak sempurna? Mau menggunting isi pikiranku karena tak sama? Kita beda Aku sadar itu Suatu kali kau melakukan yang tak sesuai dengan isi pikiranku Lalu haruskah aku juga menggunting isi pikiranmu? Kenapa aku harus sama? Apa kau benar dengan kotak, lingkaran dan segitigamu? Ya, setidaknya tak ada yang terluka bukan dengan persegi panjang dan lingkaran tak sempurnaku? Ah,tak apa Kau membuat tulisan ini tercipta Di tengah telinga yang pekak Hati yang menciut dan senyum yang memudar Hanya saja kita tak perlu sama

Selama Pandemi

Pandemi? jeda. Setelah 2018, 2019 dan awal tahun tadi memforsir badan. Sempat nangis juga awal tahun tadi karena malam-malam kaki sakit karena kecapean. Awal juni kita kembali ke rutinitas, karena tidak ada surat perpanjangan belajar di rumah bagi sekolah. Tidak berekspektasi macam-macam, mau diperpanjang maupun tidak belajar dirumahnya, seperti punya 2 mata sisi uang atau pisau ya? saya percaya pemerintah punya pertimbangan matang untuk mengatasi masalah ini.      Lalu apa kegiatan selama di rumah? Pembelajaran secara daring, saya lakukan dengan menggunakan google classroom bagi kelas XI. Kenapa tidak menggunakan WA? Sempat saya gunakan ketika USBN, namun saya kewalahan dan membingungkan dengan banyaknya chat siswa, memori handphone juga penuh. Google classroom berhasil untuk sebagian siswa, namun ada saja siswa yang mengeluhkan mengenai sulitnya jaringan, ketiadakan kuota internet, belum paham cara menyerahkan tugas di google classroom, namun enggan bertanya, h...